A. Latar Belakang
Agar
sukses di dunia kerja, ternyata tidak cukup hanya cerdas pikiran saja.
Dari pengamatan beberapa pakar, orang-orang yang karirnya sukses,
ternyata bukan orang yang paling cerdas. Ada orang yang demikian pandai,
namun begitu ia bicara, ia malah selalu menyerang pendapat orang lain.
Ketika selesai berbicara dengan orang itu, energi mereka sering terkuras
habis. Karirnya tidaklah berkembang pesat. Sebaliknya, ada orang yang
peduli, baik, pandai memperhatikan perasaan orang lain, dan orang inilah
yang ternyata karirnya berkembang cepat.
Apakah
ada faktor lain selain kepintaran otak tadi? Ada, yaitu kecerdasan
emosi. Kepintaran ini adalah kemampuan seseorang dalam memonitor
perasaan dan emosinya baik pada dirinya maupun orang lain. Ia akan mampu
membedakan dua hal itu, dan kemudian menggunakan informasi itu untuk
membimbing pikiran dan tindakannya (Salovey & Mayer, 1990).
Penelitian
demi penelitian tentang kecerdasan emosi dipicu oleh karya seminal
Goleman di tahun 1989. Secara konsep, kepintaran jenis ini mampu
melengkapi pikiran. Sebelum dituangkan oleh Goleman, orang menyangka
bahwa faktor kesuksesan dalam bekerja lebih banyak ditentukan oleh
pikiran semata.
Penelitian
para ahli psikologi sepakat bahwa IQ hanya mendukung sekitar 20 persen
faktor-faktor yang menentukan suatu keberhasilan, sedangkan 80 persen
lainnya adalah berasal dari faktor lain termasuk kecerdasan emosional.
Melalui pengamatan yang mendalam, kecerdasan ini ternyata mampu
mendukung kinerja melalui dimensi penilaian diri, pengaturan diri,
motivasi, empati, dan keahlian sosial. Penilaian diri yang akurat ini
mendorong timbulnya semangat juang, pandangan jauh, mempertinggi tujuan
hidup seseorang, dan mampu memberikan arah dan arti dalam kehidupan ini
Berkenaan
dengan itu, jelaslah bahwa IQ saja belum merupakan faktor yang dapat
membuat seseorang menjadi berhasil, namun paduan EQ, AQ, IQ dan SQ lah
yang dikonstruksikan secara menyeluruh dapat meraih keberhasilan di
tempat kerja dalam situasi perubahan yang terjadi dengan cepat dan
dinamis yang sarat dengan kompleksitas yang dinamis seperti yang kita
alami sekarang ini.
Cara Meningkatkan Kecerdasan Emosional (EQ)
Beberapa cara yang dipaparkan di atas, ada beberapa yang juga dapat dilakukan untuk meningkatkan kecerdasan emosional yang kami ambil dalam artikelnya Mocendink, yaitu:
A.Mengenali emosi diri
Ketrampilan
ini meliputi kemampuan Anda untuk mengidentifikasi apa yang
sesungguhnya Anda rasakan. Setiap kali suatu emosi tertentu muncul dalam
pikiran, Anda harus dapat menangkap pesan apa yang ingin disampaikan.
Berikut adalah beberapa contoh pesan dari emosi: takut, sakit hati,
marah, frustasi, kecewa, rasa bersalah, kesepian
B.Melepaskan emosi negatif
Ketrampilan
ini berkaitan dengan kemampuan Anda untuk memahami dampak dari emosi
negatif terhadap diri Anda. Sebagai contoh keinginan untuk memperbaiki
situasi ataupun memenuhi target pekerjaan yang membuat Anda mudah marah
ataupun frustasi seringkali justru merusak hubungan Anda dengan bawahan
maupun atasan serta dapat menyebabkan stres. Jadi, selama Anda
dikendalikan oleh emosi negatif Anda justru Anda tidak bisa mencapai
potensi terbaik dari diri Anda. Solusinya, lepaskan emosi negatif
melalui teknik pendayagunaan pikiran bawah sadar sehingga Anda maupun
orang-orang di sekitar Anda tidak menerima dampak negatif dari emosi
negatif yang muncul.
C.Mengelola emosi diri sendiri
Anda
jangan pernah menganggap emosi negatif atau positif itu baik atau
buruk. Emosi adalah sekedar sinyal bagi kita untuk melakukan tindakan
untuk mengatasi penyebab munculnya perasaan itu. Jadi emosi adalah awal
bukan hasil akhir dari kejadian atau peristiwa. Kemampuan kita untuk
mengendalikan dan mengelola emosi dapat membantu Anda mencapai
kesuksesan. Ada beberapa langkah dalam mengelola emosi diri sendiri,
yaitu : Pertama adalah menghargai emosi dan menyadari dukungannya kepada Anda. Kedua berusaha mengetahui pesan yang disampaikan emosi, dan meyakini bahwa kita pernah berhasil menangani emosi ini sebelumnya. Ketiga adalah dengan bergembira kita mengambil tindakan untuk menanganinya.
Kemampuan
kita mengelola emosi adalah bentuk pengendalian diri yang paling
penting dalam manajemen diri, karena kitalah sesungguhnya yang
mengendalikan emosi atau perasaan kita, bukan sebaliknya.
D.Memotivasi diri sendiri
Menata
emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan merupakan hal yang sangat
penting dalam kaitan untuk memberi perhatian, untuk memotivasi diri
sendiri dan menguasai diri sendiri, dan untuk berkreasi. Kendali diri
emosional–menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan
hati–adalah landasan keberhasilan dalam berbagai bidang. Ketrampilan
memotivasi diri memungkinkan terwujudnya kinerja yang tinggi dalam
segala bidang. Orang-orang yang memiliki ketrampilan ini cenderung jauh
lebih produktif dan efektif dalam hal apapun yang mereka kerjakan.
E.Mengenali emosi orang lain
Mengenali
emosi orang lain berarti kita memiliki empati terhadap apa yang
dirasakan orang lain. Penguasaan ketrampilan ini membuat kita lebih
efektif dalam berkomunikasi dengan orang lain. Inilah yang disebut
sebagai komunikasi empatik. Berusaha mengerti terlebih dahulu sebelum
dimengerti. Ketrampilan ini merupakan dasar dalam berhubungan dengan
manusia secara efektif.
F.Mengelola emosi orang lain
Jika
ketrempilan mengenali emosi orang lain merupakan dasar dalam
berhubungan antar pribadi, maka ketrampilan mengelola emosi orang lain
merupakan pilar dalam membina hubungan dengan orang lain. Manusia adalah
makhluk emosional. Semua hubungan sebagian besar dibangun atas dasar
emosi yang muncul dari interaksi antar manusia. Ketrampilan mengelola
emosi orang lain merupakan kemampuan yang dahsyat jika kita dapat
mengoptimalkannya. Sehingga kita mampu membangun hubungan antar pribadi
yang kokoh dan berkelanjutan. Dalam dunia industri hubungan antar
korporasi atau organisasi sebenarnya dibangun atas hubungan antar
individu. Semakin tinggi kemampuan individu dalam organisasi untuk
mengelola emosi orang lain.
G.Memotivasi orang lain.
Ketrampilan
memotivasi orang lain adalah kelanjutan dari ketrampilan mengenali dan
mengelola emosi orang lain. Ketrampilan ini adalah bentuk lain dari
kemampuan kepemimpinan, yaitu kemampuan menginspirasi, mempengaruhi dan
memotivasi orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Hal ini erat
kaitannya dengan kemampuan membangun kerja sama tim yang tangguh dan
andal.